CLOSE ADS
CLOSE ADS

Steve Jobs, mengingat 10 tahun kepergian sang pendiri Apple

SUNGGUH tidak enak menjadi seorang Steve Jobs (1955-2011), pada mulanya begitu. Dan sungguh membanggakan menjadi seorang Steve Jobs, pada akhirnya begitu.Sejak awal ia adalah manusia yang tidak diharapkan lahir ke dunia. Beberapa lama dia juga tak tahu hendak menjadi apa. Kelahirannya tidak dikehendaki. Ibu dan ayah biologisnya masih mahasiswa di University of Wisconsin ketika janinnya berkembang.

Orangtua si mahasiswi, tidak ingin anaknya menikah dengan lelaki keturunan Suriah bernama Abdulfattah Jandali, yang hingga si anak meninggal tak pernah saling bertemu. Jandali kini masih hidup dan bekerja di sebuah kasino.

Pilihannya hanya satu: aborsi! Si mahasiswi – Joanne Schieble memilih melahirkan bayinya. Diam-diam ia tinggalkan Wisconsin dan pergi ke San Francisco dan melahirkan di sana, lalu menyerahkan anak yang tak sempat ia beri nama itu pada pasangan Paul dan Clara Jobs – sebuah keluarga kelas pekerja yang dalam struktur ekonomi-sosial Amerika mungkin berada di level paling bawah.

Paul tak tamat SMA. Ia bekerja macam-macam: jadi penagih utang, tukang sita barang, dan masinis. Sementara Clara bekerja sebagai pegawai administrasi di sebuah perusahaan teknologi canggih pertama di Lembah Silikon.

Meski dalam kontrak adopsi ada kesepakatan bahwa si orangtua angkat itu harus mengurus pendidikan si anak hingga selesai kuliah, nyatanya Steve Jobs hanya sempat duduk satu semester di kursi perguruan tinggi.

Paul dan Clara Jobs sempat ingin mengembalikan Steve Jobs, anak angkatnya yang ternyata sangat merepotkan. Steve kecil tumbuh sebagai anak yang gal-gal, temperamental.
Tangannya pernah terbakar karena memasukkan jepitan rambut ke colokan listrik. Ia pernah minum racun semut, dan nyawanya selamat setelah isi perutnya dipompa.

“Dia anak yang menyusahkan,” kata Clara Jobs.

Keluarga Jobs lalu pindah ke Mountain View dengan tekad mengubah nasib yang tak kunjung baik. Saat itu Steve kecil berusia tiga tahun. Paul menjajal usaha properti dan memperbaiki mobil-mobil.

Ketika kelas empat Steve yang tidak pintar – dan dengan putus asa pernah menjawab gurunya, Imogen Hill, begini: “Saya tak paham kenapa kami tiba-tiba begitu melarat.”

Saat itu gurunya bertanya kepada setiap murid, “Apa yang kamu tidak pahami di alam semesta ini?”

Sampai di situ, riwayat hidup Jobs tidak menjanjikan apa-apa. Di kelas ia usil, terlalu banyak bicara, dan kurang memperhatikan pelajaran.

Belakangan Steve mengaku diselamatkan oleh guru Hill yang membayarnya lima dollar agar mau mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca.

Hill, guru yang jeli itu, melihat potensi besar di balik kenakalan anak didiknya itu. “Dia adalah salah satu penyelamat hidup saya,” kata Jobs, seperti ditulis Norman Seeff di majalah Rolling Stone (November, 2011).

Ketika SMA, tanpa merasa bersalah dan menutup-nutupi pada ayahnya, Steve menjadi pengguna mariyuana, pergi dari rumah dan hidup serumah dengan pacarnya. Sampai di titik itu, ia juga belum tahu hendak hidup sebagai apa, dan ia belum menemukan dirinya sendiri.

Steve lalu masuk kuliah di perguruan tinggi swasta Reed College, di Oregon. Itu hanya ia jalani selama enam bulan dan setelah itu ia merasa kuliah taka da gunanya.

Ia merasa bersalah karena kuliah itu hanya akan menghabiskan tabungan orangtua angkatnya. Ia memilih berhenti.

1 thought on “Steve Jobs, mengingat 10 tahun kepergian sang pendiri Apple

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap