CLOSE ADS
CLOSE ADS

7 burung beo istana negara dan Presiden Soekarno

Di surga presiden Soekarno bertemu dengan pengurus rumah tanggal Istana.

Si pengurus dulu di taman Istana memelihara burung beo yang kini bersamanya di surga.

“Kok banyak? Dulu pada zaman saya cuma ada satu?”

“Tiap ganti presiden saya tambah satu, Pak,” katanya. Dia lalu menyuruh beo-beo itu bicara.

“Revolusi belum selesai, belum selesai,” kata beo pertama.

“Oh, ini pasti burung beo dari zaman saya,” kata Soekarno.

Beo kedua bicara, “… murni dan konsekuen, murni dan konsekuen…” Presiden Soekarno pun tahu itu beo dari zaman Presiden Soeharto.

“… tekhnolokhi canggikh….” kata beo ketiga, berulang-ulang. Soekarno tertawa mendengarnya, “ini pasti beo dari zaman Habibie.

“Gitu aja kok repot,” kata beo keempat. “Ini dari masa Gus Dur, Pak,” kata pengurus istana. Soekarno manggut-manggut.

Beo berikutnya seekor betina yang diam saja sejak semula. Beo berikutnya memandang beo betina itu berkata, “saya prihatin, saya merasa prihatin…”

“Ini beo dari zamannya siapa?” tanya Soekarno.

Belum sempat pengurus istana menjawab, beo terakhir menyahut, “ya ndak tahu kok tanya saya…”

Soekarno pun bingung. Pengurus Istana angkat bahu.

Photo by David Clode on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap