CLOSE ADS
CLOSE ADS

Puisi Mbeling: 1 Gubahan Plesetan Kahlil Gibran untuk Calon Juru Kampanye Koruptor

Misalkan Kahlil Gibran menulis puisi mbeling tentang koruptor.

Lalu, seorang mantan koruptor bertanya kepada Sang Nabi, “apakah orang akan mendengarkan aku apabila aku menghimbau orang agar tidak mencuri uang rakyat seperti yang aku lakukan dulu?”

Sambil menahan tawa, tapi juga seperti hendak marah dan hendak menangis, Al-Mustafa menjawab, “jangan kau bertanya perihal itu kepadaku.”

“Yang pertama harus kamu lakukan adalah meminta maaf kepada orang-orang yang uangnya kamu curi.”

“Mereka adalah para buruh kasar yang bekerja di pabrik-pabrik milik investor asing, yang harus bekerja lembur untuk mencukupkan penghasilan bagi keluarganya.”

Baca juga puisi mbeling lain: Aku Mau Hidup 3.000 Tahun Lagi

“Mereka adalah para penagih pajak yang jujur, yang tak tergoda memangkas pajak pengusaha yang hendak mengelak dari pajak.”

“Mereka adalah para fakir miskin dan anak terlantar yang ayatnya tak pernah diamandemen dalam undang-undang dasar tapi kamu seperti pura-pura lupa bahwa pasal itu ada, masih ada.”

“Kau mencuri uang dari yang dikumpulkan serupiah demi serupiah, dari tiap tetes keringat para buruh itu, kau mencuri uang yang seharusnya sampai pada mereka yang kelaparan bukan karena malas, tapi karena sistem yang curang dan timpang.”

“Minta maaflah kepada mereka lebih dahulu. Mereka pasti memaafkan. Dan itu cukup. Biarkan mereka kemudian memberi penyuluhan kepada kawan-kawanmu yang mungkin tergoda melakukan korupsi seperti korupsi yang kamu lalukan dulu.”

Ya, begitulah kira-kira.

Dari: Cupu Sukepo, penyair merangkap kolektor sertifikat diskusi literasi onlen.

Untuk: Puisi mbeling ini dipersembahkan untuk para koruptor merangkap calon juru kampanye antikorupsi.

Ucapan: Kalau nanti bikin ceramah antikorupsi mohon pesertanya diberi sertifikat, ya?

Photo by Sora Shimazaki from Pexels

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap