CLOSE ADS
CLOSE ADS

Kisah Sufi #4: Keluasan Bahasa dan Santapan Batin

kisah sufi
  • Save

Kisah-kisah sufi yang baik seperti puisi yang baik. Dari padanya kita sebagai pembaca bisa memetik beragam hikmah dan makna.

Peran penyair memang kerap kali menyatu dalam diri seorang sufi. Kita ingat Jalaluddin Rumi, misalnya.

Salah satu kisah dalam “Hikmah dari Timur” (Penerbit Pustaka, Perpustakaan Salman ITB, Bandung, 1982) yang dikumpulkan Idries Shah ini menggambarkan hal itu.

Seorang awam mengeluh kepada seorang sufi yang arif bijaksana bahwa kisah-kisah beliau telah ditafsirkan secara berbeda-beda.

Apa jawaban sufi itu? “Memang demikianlah seharusnya penilaian terhadap kisah-kisah itu,” katanya.

Kisah-kisah sufi itu ibarat cangkir atau piring, wadah yang terbatas, yang bisa digunakan untuk minum susu atau air, untuk makan daging atau buah-buahan.

“Tapi seberapa luaskah bahasa jika itu kau gunakan sebagai wadah untuk santapan batinmu?”

Orang awam itu menunduk dan mengangguk perlahan. Tampaknya ia mulai paham.

Sufi itu melanjutkan, “yang jadi persoalan bukanlah dengan berapa carakah manusia dapat memahami suatu persoalan, kenapa manusia tak dapat memahaminya dengan satu cara saja?”

“Tapi persoalannya adalah dapatkah manusia menarik manfaat dari segala sesuatu yang dapat ditemuinya di dalam kisah-kisah itu…,” katanya.

Baca kisah sufi lain di tautan ini.

Photo by Maria Lupan on Unsplash

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap